Bengkulu, 29 Oktober 2026 — Di tengah kemeriahan Gebyar Semarak Merah Putih Bengkulu pada Kamis sore (29/10), mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Bengkulu (FEB KBM UNIB) menyampaikan pesan kritis mengenai ketidakadilan yang terjadi di Indonesia, persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta penderitaan masyarakat yang masih berjuang menjalani kehidupan di tengah berbagai persoalan tersebut.
Aksi ini diprakarsai oleh M. Naufal Aditya Lubis selaku Gubernur BEM FEB KBM UNIB dengan mengajak Himpunan Mahasiswa (HIMA) dan Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) di lingkungan FEB untuk bersama-sama menunjukkan kepedulian dan menyuarakan keresahan masyarakat. Melalui aksi simbolik yang dikemas dalam drama singkat, pembentangan spanduk, penggunaan media cetak berisi pesan-pesan kritis, serta simbol tiga jari, mahasiswa menghadirkan ekspresi solidaritas dan perlawanan terhadap ketidakadilan di ruang publik.
Bagi mahasiswa, momentum perayaan Gebyar Semarak Merah Putih tidak seharusnya hanya dipenuhi kemeriahan dan kegiatan seremonial. Di tengah perayaan, masih terdapat persoalan yang membutuhkan perhatian bersama, mulai dari ancaman karhutla, dampak pencemaran udara, hingga masyarakat yang mengalami kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari akibat kondisi lingkungan yang memburuk.
Dalam pernyataannya, M. Naufal Aditya Lubis menegaskan bahwa FEB KBM UNIB tidak akan memilih diam ketika ketidakadilan terus terjadi di Indonesia. Sikap tersebut menjadi penegasan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap bersuara, menyampaikan keresahan, dan berdiri bersama masyarakat yang menghadapi kesulitan.
“FEB KBM UNIB tidak akan diam. Kami akan tetap bersuara terhadap ketidakadilan yang terjadi di Indonesia saat ini. Kami juga terus mendoakan rekan-rekan dan masyarakat kita yang hingga hari ini masih kesulitan bernapas dan belum bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya. Penderitaan mereka tidak boleh kita abaikan, dan persoalan ini tidak boleh dianggap selesai hanya karena perhatian publik mulai beralih,” demikian inti pernyataan yang disampaikan Aditya dalam aksi tersebut.
Aksi mahasiswa FEB UNIB saat berorasi di panggung Semarak Merah Putih. (foto by Hms_W)
Selain menyampaikan kritik, mahasiswa juga menghadirkan ruang refleksi kemanusiaan melalui pembacaan puisi dan doa bersama untuk mengenang sembilan pahlawan yang meninggal dunia dalam rangkaian penanganan karhutla. Kegiatan ini menjadi bentuk penghormatan kepada mereka yang telah mempertaruhkan keselamatan dalam upaya memadamkan kebakaran dan melindungi masyarakat.
Pembacaan puisi menjadi medium untuk menyampaikan kesedihan, kehilangan, dan keresahan atas persoalan lingkungan yang terus mengancam kehidupan. Doa bersama dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada para korban sekaligus ungkapan solidaritas bagi keluarga yang ditinggalkan.
Bagi BEM FEB KBM UNIB, pengorbanan para petugas dan relawan yang gugur tidak seharusnya berhenti menjadi angka dalam pemberitaan. Peristiwa tersebut harus menjadi pengingat bahwa karhutla bukan sekadar persoalan api yang membakar lahan, melainkan persoalan kemanusiaan yang menyangkut keselamatan, kesehatan, keberlangsungan lingkungan, dan kehidupan masyarakat.
Mahasiswa juga menaruh perhatian terhadap masyarakat yang hingga kini masih merasakan dampak kebakaran dan pencemaran udara. Kesulitan bernapas, terganggunya aktivitas harian, serta ketidakpastian kondisi lingkungan merupakan persoalan nyata yang membutuhkan penanganan serius. Mereka yang terdampak tidak cukup hanya menjadi objek simpati, tetapi harus memperoleh perhatian, perlindungan, dan langkah penanganan yang memadai dari pihak-pihak terkait.
Keterlibatan HIMA dan ORMAWA FEB dalam aksi ini sekaligus menjadi upaya membangun kesadaran kolektif bahwa tanggung jawab mahasiswa tidak berhenti di ruang kuliah maupun kegiatan internal organisasi. Mahasiswa harus mampu membaca persoalan di sekitarnya, menghubungkan realitas masyarakat dengan tanggung jawab sosial, serta menggunakan ruang yang dimiliki untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka dan bertanggung jawab.
Melalui aksi tersebut, FEB KBM UNIB ingin menegaskan bahwa keberpihakan terhadap masyarakat tidak cukup diwujudkan melalui pernyataan simpati semata. Dibutuhkan keberanian untuk mengangkat persoalan, menjaga agar suara masyarakat tetap terdengar, serta mendorong evaluasi dan perbaikan terhadap upaya pencegahan maupun penanganan karhutla.
Momentum Gebyar Semarak Merah Putih Bengkulu menjadi pengingat bahwa semangat kebangsaan harus berjalan beriringan dengan keberanian menghadapi persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Merayakan Indonesia juga berarti merawat kehidupan rakyatnya, menjaga lingkungan, dan tidak menormalisasi ketidakadilan.
FEB KBM UNIB berharap perhatian terhadap karhutla dan berbagai persoalan sosial yang menyertainya tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Solidaritas harus terus dijaga, suara masyarakat harus tetap didengar, dan langkah nyata perlu terus didorong agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitasnya dengan aman dan layak.
FEB KBM UNIB tidak akan diam ketika ketidakadilan terjadi. Selama masih ada masyarakat yang kesulitan bernapas, selama masih ada kehidupan yang terancam, dan selama masih ada suara yang belum didengar, mahasiswa harus tetap menjaga kepedulian dan keberanian untuk bersuara. Sebab, mencintai Indonesia bukan hanya tentang merayakannya, tetapi juga tentang keberanian memperjuangkan kehidupan yang lebih adil bagi seluruh rakyatnya.


